Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Maret 2011

5 Harapan Allah Tentang Puasa

Mungkin ada yang bertanya, mengapa ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya masih berharap kepada manusia, bukankah DIA tidak memerlukan apa-apa dari makhluk-NYA? Namun, ternyata ALLAH menaruh harapan atas kaum beriman. Lima harapan ALLAH itu terungkap dalam rangkaian ayat tentang puasa dan Ramadhan (al-Baqarah : 183-189), yaitu dalam bentuk 'kalimat harapan' (la'alla) yang terdapat pada akhir beberapa ayat tersebut. 

Dalam perspektif Bahasa Arab, la'alla, secara harfiah berarti mudah-mudahan atau semoga, merupakan harapan faktual dan potensial, yakni bahwa harapan itu berdasarkan fakta-fakta yang ada dalam diri yang diharapkan dan karenanya sangat mungkin terlaksana.

Harapan pertama, (akhir ayat 183), la'allakum tattaqun,
semoga kamu menjadi orang bertakwa, dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah puasa. Bahwa, shaimin dan shaimat diharapkan dapat meraih predikat ketakwaan, tentu melalui proses aktif dan dinamis dalam suatu keberagaman yang berorientasi pada sikap menjadi (to be) daripada sekadar memiliki (to have).

Harapan kedua (akhir ayat 185), la'allakum tasykurun,
semoga kamu menjadi orang bersyukur, berhubungan antara lain dengan wahyu Al-Qur'an yang diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan. Alquran adalah hidayah ALLAH berupa petunjuk, nilai dan ajaran yang sangat penting bagi manusia untuk mencapai derajat kemanusiaan tertinggi, karenanya harus disyukuri melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur'an tersebut.

Harapan ketiga, la'allahum yarsyudun
, semoga mereka menjadi orang yang terbimbingkan, dikaitkan dengan komunikasi intensif melalui doa kepada ALLAH. Doa adalah medium yang sangat efektif untuk memperoleh tambahan kekuatan dari sumber-NYA, yaitu Sang Pencipta yang sesungguhnya sangat dekat dengan manusia ciptaan-NYA, bahkan lebih dekat dari urat nadinya sendiri.

Harapan keempat (akhir ayat 187), la'allahum yattaqun, semoga mereka menjadi orang bertakwa, merupakan pengulangan dan penekanan dari harapan pertama, yang kali ini dikaitkan dengan pengindahan terhadap ketentuan dan batas-batas yang telah ditentukan ALLAH
dalam kehidupan muamalat. Sikap ketaatan seperti inilah yang akan membawa kaum beriman kepada ketakwaan.

Harapan terakhir (akhir ayat 189), la'allakum tuflihun,
semoga kamu menjadi orang yang menang dan berbahagia, berkaitan dengan sikap hidup yang berorientasi kepada kebaikan dan kebenaran sebagai pangkat kemenangan dan kebahagiaan.

Sumber



Jumat, 17 Desember 2010

Manusia yang Hatinya Telah Mati


Manusia yang Hatinya Telah Mati
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Persepsi tentang mati memang berbeda pada setiap orang. Ada yang merasa sudah mati ketika kehilangan kekasihnya. Ada yang merasa mati ketika ludes harta bendanya. Dan, ada yang menganggap hidupnya tak berarti saat dirundung kegagalan dan kedukaan akibat musibah.

Mati bukan hanya ketika seseorang telah mengembuskan napas terakhir, matanya terpejam, detak jantung terhenti, dan jasad tak bergerak. Itu semua hanya mati biologis. Kematiannya masih bermanfaat karena menjadi pelajaran bagi yang hidup. Rasulullah SAW bersabda, "Cukuplah kematian menjadi pelajaran, dan cukuplah keyakinan sebagai kekayaan." (HR At-Thabrani dari Ammar RA).

Alangkah banyak manusia sudah mati, tapi masih memberikan manfaat bagi yang hidup, yakni masjid atau madrasah yang mereka bangun, buku yang mereka tulis, anak saleh yang ditinggalkan, dan ilmu bermanfaat yang telah diajarkan. Meraka mati jasad, tapi pahala terus hidup (lihat QS al-Baqarah [2]: 154).

Sesungguhnya yang perlu diwaspadai adalah mati hakiki, yakni matinya hati pada orang yang masih hidup. Tak ada yang bisa diharapkan dari manusia yang hatinya telah mati. Boleh jadi dia hanya menambah jumlah bilangan penduduk dalam sensus. Hanya ikut membuat macet jalanan dan mengurangi jatah hidup manusia lain. Itu pun kalau tak merugikan orang lain. Bagaimana halnya dengan koruptor, orang yang merusak, dan menebar kejahatan di muka bumi?

Tanda manusia yang hatinya telah mati, antara lain, kurang berinteraksi dengan kebaikan, kurang kasih sayang kepada orang lain, mendahulukan dunia daripada akhirat, tak mengingkari kemungkaran, menuruti syahwat, lalai, dan senang berbuat maksiat.

Ada tiga hal yang bila kita tinggalkan akan menyebabkan kematian hati. Pertama, bila shalat ditinggalkan, itu akan membuat jiwa kalut. Kita akan terjerumus ke dalam perbuatan keji, terseret ke lembah kemungkaran dan kesesatan (QS al-Ankabut [29]: 45 dan QS Maryam [19]: 59), dan bisa menyusahkan serta merugikan orang lain.

Kedua, meninggalkan sedekah. Itu berarti kita egois, individualis, dan enggan berbuat baik. Kepedulian sosial seperti sedekah adalah bukti keimanan. Orang yang suka bersedekah hatinya lapang dan dijauhkan dari penyakit, khususnya kekikiran, sedangkan para dermawan selalu menebar kebajikan sehingga dekat dengan manusia, Allah, dan surga.

Ketiga, meninggalkan zikrullah adalah awal kematian hati. Hatinya akan membatu sehingga tak bisa menerima nasihat dan ajaran agama. Zikir akan menimbulkan ketenangan hati (QS Ar-Ra'd [13]: 28). Orang yang tenang hatinya akan berperilaku positif dan tak mau berbuat jahat.

Mukmin yang selalu shalat, senang bersedekah, dan memperbanyak zikrullah akan menjadi orang yang paling baik, memiliki hati yang hidup, dan menebar kebaikan kepada sesama. Bila kita merasa rajin shalat, sedekah, dan zikir, tetapi hatinya mati, kemungkinan besar shalat, sedekah, dan zikirnya cenderung formalitas tanpa jiwa

sumber : republika.co.id

materi itu tidak kekal

semua yang menjadi milik kita kemarin, sekarang, besok adalah merupakan titipan dari Allah Subhana huwata 'ala dimana dari titipan itu kita akan menjadi salah satu dari kedua sisi yang sangat berlainan 180 derajat. sebagai contoh uang yang kita dapat dari jerih payah kita sehari-hari. itu hanyalah merupakan titipan dari Allah, dimana jika kita menggunakan uang tersebut dijalan-Nya pasti akan kembali kepada kita berlipat-lipat sedangkan jika kita gunakan untuk foya-foya niscaya uang tersebut akan membawa diri kita kejurang kenistaan. uang yang kita dapat sebagian adalah milik orang-orang yang tidak mampu. kewajiban kita sebagai orang yang berpunya adalah memberikan sebagian rizki yang kita miliki untuk mereka yang tidak memiliki. hal ini tertulis dalam firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 254

sumber : facebook.com